Tampilkan postingan dengan label Bacaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bacaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Desember 2011

Ayat-ayat Tentang Infaq


======================================
Anjuran Untuk Berinfaq
======================================
Alif Laam Miim. Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka. [Al-Baqarah 1-3]
Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: "Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan." Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya. [Al-Baqarah : 215]
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir. [Al-Baqarah : 219]
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.[Al-Baqarah : 245]
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. [Al-Baqarah : 261]
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.[Al-Baqarah : 262-263]
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.[Al-Baqarah : 267]
Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Baqarah : 271]
Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufik) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan).[Al-Baqarah : 272]
(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. [Al-Baqarah : 273]
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.[Al-Baqarah : 274]
Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. [Al-Baqarah : 276]
Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?" Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang-orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,"(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. [Ali-'Imran 15-17]
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. [Ali-'Imran : 92]
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal. [Ali-'Imran : 133-136]
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barang siapa yang mengambil sayitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya. [An-Nisaa' : 36-38]
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. [An-NIsaa' : 114]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. [Al-Anfaal : 2-4]
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).[Al-Anfaal : 60]
dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal shaleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.[At-Taubah : 121]
Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian, dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang shaleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun `alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. [Ar-Ra'd : 19-24]
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi atau pun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan persahabatan. [Ibrahim : 31]
Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),  (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka. [Al-Hajj : 34-35]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. [As-Sajdah : 15-17]
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. [Al-Ahzab : 35]
Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya. [Saba' : 39]
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. [Faathir : 29]
Maka sesuatu apa pun yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal. dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf. Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan dzalim mereka membela diri. [Asy-Syuura : 36-39]
Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar. [Al-Hadiid : 7]
Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak. [Al-Hadiid : 18]
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. [At-Taghabun : 16]
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. [Ath-Thalaaq : 7]
Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan. [Al-Lail : 17-21]

======================================
Ancaman Bagi Orang Yang Enggan Berinfaq
======================================

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. [At-Taubah : 34]
Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: "Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang shaleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. [At-Taubah : 75-77]
(Orang-orang munafik) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka adzab yang pedih. [At-Taubah : 79]
Di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu; merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga) Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Baqarah : 98-99]
Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini). [Muhammad : 38]
Dan mengapa kamu tidak menafkahkan (sebagian hartamu) pada jalan Allah, padahal Allah-lah yang mempusakai (mempunyai) langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.[Al-Hadiid : 10]
Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) karena kamu memberikan sedekah sebelum pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah telah memberi tobat kepadamu maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Mujaadilah : 13]
Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?" [Al-Munafiquun : 10]

======================================
Larangan Untuk Menyebut-nyebut Pemberian
======================================

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.[Al-Baqarah : 264]

======================================
Penyebab Infaq Tidak Diterima
======================================

Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan. [At-Taubah : 54]

Kamis, 08 Desember 2011

Amalan bagi orang yang tak mampu berzakat/bershadaqoh


Al-Hamdu Lillah, Nasta'inuhu wa Nastaghfiruh.
Al-Bukhari berkata - Menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Bakr, katanya, menceritakan kepada kami Mu’tamir, dari ‘Ubaidillah, dari Sumay, dari Abi Shalih, dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu katanya,
“Telah datang orang-orang faqir (miskin) mengadu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berkata, “Orang-orang yang banyak hartanya telah memperoleh derajat yang tinggi dan kenikmatan yang tetap, mereka shalat seperti kami shalat dan mereka shaum (puasa) seperti kami shaum, akan tetapi mereka memiliki kelebihan harta yang dengannya mereka dapat ber-hajji, umrah, ber-jihad dan ber-shadaqah (sedangkan kami tidak)” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku beritakan suatu amalan yang jika kamu mengamalkannya kamu dapat mengejar orang-orang yang mendahului kamu, dan tidak ada sesudah itu orang yang dapat menyusul kamu kecuali orang yang mengamalkan seperti itu? Yaitu kamu ber-Tasbih, ber-Tahmid, dan ber-Takbir di belakang setiap shalat (wajib) masing-masing 33 kali.”
HR. Al-Bukhari, Shahih no.807; Muslim, Shahih no.595; Ibnu Khuzaimah, Shahih no.749 (1/368); Ibnu Hibban, Shahih no.2014 (5/356-357).
Meriwayatkan juga dengan matan serupa dari jalan shahabat Abu Dzarr Al-Ghifariy radhiyallahu 'anhu, dikeluarkan oleh :
Muslim, Shahih no.1006; Ibnu Khuzaimah, Shahih no.748 (1/368); Ibnu Hibban, Shahih no.838 (3/119).

Jumat, 28 Oktober 2011

Manisnya iman, pedihnya kufur



“Ada tiga perkara yang apabila ketiganya terdapat pada diri seseorang, ia tentu mendapatkan manisnya iman; Allah dan rosul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran setelah Allah selamatkan dia sebagaimana ia tidak suka dilempar ke dalam api " (HR. Muslim) 1)
Manisnya Iman
Hadits ini merupakan kaidah agung dalam Islam. Manisnya iman yakni perasaan nikmatnya hidup, indahnya hidup yang timbul karena sebab keyakinannya dan ketaatannya kepada Allah ta’ala. Dan dia rela menanggung derita ujian dan cobaan sesaat karena sebab keimanannya, karena iman pasti diuji. dan ia tetap ridho Allah sebagai Robb, Muhammad sebagai rosul, Al-Qur’an sebagai petunjuk, dengan apapun yang dihadapinya. Karena dengan imannya, semua berujung pada hasil kebahagiaan yang hakiki. 2)
Yang akan mampu merasakan hal tersebut hanyalah mereka yang mengutamakan keimanannya daripada apapun. Ia utamakan cintanya kepada Allah dan rosul-Nya daripada cintanya kepada benda-benda. Ia lebih mengutamakan seruan Allah dan Rosul-Nya dengan menunaikan perintahperintah- Nya dan menjauhi larangan-Nya dari pada ajakan hawa nafsu.
Al-Qodhi ‘iyadh berkata; yang mampu merasakan manisnya iman hanyalah mereka yang cinta dan taat secara tulus kepada Allah dan rosul-Nya. Dan hanya inilah yang menjadikan jiwanya tentram, dadanya lapang, kesulitan-kesulitannya menjadi mudah. Hanya orang yang seperti ini saja bias merasakan lezatnya iman. 3) Sementara yang lain tidak.
Lebih mencintai Allah dan Rosul-Nya
Lalu apa tanda seseorang itu dicintai Allah?. Sebab setiap sesuatu itu memiliki sifat dan tanda. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Mas’ud; setiap sesuatu itu memiliki ciri-ciri dan tandatanda. Dalam hal ini syeikh al-Hakami ditanya; apa tanda seorang hamba itu dicintai Allah ? Ia berkata; yaitu ia mencintai setiap apa yang Allah dan rosulullah cintai, ia juga membenci apa saja yang Allah dan rosulullah benci. 4) Cinta dan bencinya telah tunduk dibawah wahyu, jauh dari cinta karena hawa nafsu.
Al-Qodhi ‘iyadh berkata; tanda seseorang mencintai Allah yaitu hatinya mampu untuk selalu menerima seruan-seruan Allah, jiwanya dipenuhi ketaatan kepada-Nya. Ia mencintai sesuaatu yang Allah cintai serta membenci apa yang Allah benci. Sebagaimana firman Allah;
“Dan dari manusia itu ada yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu-sekutu yang mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Dan orang-orang yang beriman teramat sangat cintanya kepada Allah” (QS. Al-Baqoroh: 165) 5)
Al-Qodhi ‘iyadh berkata; Cinta (mahabbah) adalah kecenderungan hati untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan apa yang disukai oleh yang dicinta. Kecenderungan itu sendiri terasa nikmat dan dianggap baik, misalnya yang lumrah diketahui; mencintai wajah rupawan, bacaan qur’an yang merdu, rasa lezat makanan, kendaraan tunggangan yang kuat dan seterusnya. 6)
Namun ada tingkatan cinta yang lebih tinggi yakni yang lebih mengedepankan sisi dalam (inner) seperti; rasa cinta kepada yang memiliki sifat adil, bijaksana, tanggung jawab, bisa diandalkan, lapang dada, empati, pema’af, akhlaq yang baik, dermawan, penyayang, pelindung dan sebagainya. Padahal semua sifat mulia ini telah ada pada asmaul husna Allah. Juga pada diri rosulullah yang disebutkan Allah memiliki Akhlaqul karimah 7)
Oleh karena itu rosulullah bersabda;
“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sehingga Aku (rosulullah) lebih dicintainya melebihi orangtuanya, anaknya dan manusia seluruhnya.” (HR. Bukhory).8)
Sebab rosulullah memiliki derajat kesempurnaan, menunjuki manusia ke jalan petunjuk, mengajari manusia untuk tunduk kepada yang maha Pecinta, menyucikan mereka dari perilaku buruk kepada ketinggian adab, menerangi manusia dengan cahaya bahwa siapa saja yang mentaatinya akan dimasukkan surga, sebaliknya siapa yang bandel dan ogah-ogahan beriman akan dicampakkan ke dalam neraka. (Akhir keterangan Qodhi ‘iyadh) 9)
Orang yang beriman akan merasakan manisnya iman apabila hanya Allah dan rosulullah yang paling ia cintai. Dan mencintai Allah dan rosul-Nya mengharuskan adanya penghormatan, ketundukan dan pengagungan. Mendahulukan firman dan sabdanya atas segala ucapan manusia. Siapapun dia.
Dengan demikian kelak di hari kiyamat tidak akan diterima alasan-alasan mereka yang lebih mencintai materi bumi dari pada Allah dan rosulullah. Yang lebih mencintai rumahnya, pabriknya, jabatannya, karirnya, sawah-ladangnya, kendaraannya. Juga ternaknya. Memang setiap orang pasti mencintai dunia sebagai pembawaan insting. Namun tidak semua orang mau serta mampu mencintai Allah dan rosul-Nya.
Sebagaimana Allah berfirman;
“Dijadikan indah bagi semua manusia cinta syahwat kepada wanita-wanita dan anak-anak dan harta perhiasan dari emas dan perak dan kuda kendaraan dan ternak-ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup dunia. Dan di sisi Allah ada tempat yang lebih baik” (QS Ali Imron: 14) 10)
Mencintai seseorang karena Allah.
Mencintai seseorang karena Allah adalah mencintai sesama muslim. Dan tidak pantas seorang muslim mencintai musuh Allah. Sehingga mencintai sesama muslim berarti menjalin hubungan baik bersama mereka dengan saling menghargai mereka, dengan menasehati, saling memberi, memuliakan dan tidak mendholimi, tidak menyakiti, tidak merusak kehormatannya, tidak mengusik ketentramannya, harta dan darahnya. 11)
Jika seseorang telah jelas nampak mentaati Allah dan rosul, menjauhi dosa-dosa, tampak secara lahir selalu berusaha menyempurnakan diri menjadi hamba Allah yang baik, maka alasan apalagi untuk tidak mencintainya?
Sebab kenyataannya masih ada sekelompok yang saling meng-hajr (menjauhi), saling memvonis, tidak saling memperbaiki, justru saling men-takfir, kasar, dan jauh dari adab dakwah yang hikmah. Yang diberikan justru fitnah bukan maslahat. Kedholiman bukan keadilan. Perilaku yang jalang bukan akhlak mulia. Tidak pernah disampaikan dakwah dan nasehat.
Benci kepada kekufuran
Ia benci menjadi kafir di suatu saat, takut murtad setelah muslim, takut keimanannya berkurang menjadi minus. Lebih baik ia memilih dilempar ke dalam api dari pada menjadi yahudi, atau nashrani atau majusi. Atau ia lebih rela dibakar api daripada menjadi kafir. 12)
Dengan demikian nabi seakan-akan bersabda bahwa terbakarnya badan dengan bara api itu lebih ringan baginya daripada harus menanggung resiko kufur. Bahkan seandainya orang-orang kafir yang kaya raya di dunia ini diperlihatkan pedihnya siksa yang akan diterimanya kelak niscaya ia akan berusaha menebusnya dengan semua harta kekayaannya hingga sepenuh bumi. 13)
Meski mereka secara lahiriyah tampak begitu enak, bisa mengenakan pakaian yang bagus-bagus, makan yang enak-enak, bertempat tinggal dengan fasilitas yang mewah-mewah, namun sebenarnya hatinya selalu gelisah dengan sebab kesasatnya. Bagi mereka siksa yang pedih di akhirat14),. Balasan yang akan dia rasakan di dunia adalah kalutnya fikiran15), hati yang sakit16), umur yang tersia-sia17), amalan yang percuma18), lelahnya badan, pahitnya hidup19), sempitnya urusan 20), beratnya beban 21), dan kehidupan sehari-hari yang selalu diliputi dengan kegalauan dan kegamangan.22)
Do’a
Semoga kita semua mampu meraih tiga kaidah utama kelezatan hidup ini. Sebab hal ini merupakan sebuah derajat yang tinggi bagi seorang muslim agar mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan hidup. Dunia akhirat.

Hikmah Puasa Ramadhan


     “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusiadan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda . Karena itu, barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan, maka hendaknya mengganti sebanyak hari yang ditinggalkannya pada harihariyang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.
Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu membesarkan Allah ataspetunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur"(QS. Al-Baqoroh: 185) 1) 2)
Kemuliaan Ramadhan
Dinamakan Ramadhan sebab pada bulan ini dosa-dosa dan kesalahan dibakar (Romadh), keinginan hawa nafsu dikekang, melaksanakan ketaatan dan mengharap pahala dari Allah dengan menahan diri (shiyam) dari apa –apa yang membatalkan sejak fajar hingga terbenamnya matahari.
Bulan Ramadhan merupakan karunia besar bagi hamba-hamba Allah, sebab di dalamnya terdapat manfaat yang sangat banyak. Diantara manfaatnya adalah dihapuskannya dosa-dosa antara Ramadhan dengan Ramadhan yang lain. Dan ibadah puasa itu telah disyari’atkan kepada manusia sejak zaman purba hingga sekarang.
Ramadhan merupakan bulan yang paling mulia dalam perjalanan bulan-bulan dalam setahun. Karena nilai pahala ibadah pada bulan ini dilipat gandakan oleh Allah daripada bulan yang lain. Maka hendaknya setiap muslim menyegerakan amal dalam bulan ini, menyempurnakan ibadahibadah, memperbaiki kekurangan-kekurangan. Misalnya dengan bersedekah, tadarus Al-Qur’an,berdzikir, qiyamul-lail, berakhlaq baik dan sebagainya.Di antara kemulian bulan ini juga adalah adanya malam Lailatul-qodar, yang 1 malam nilainya lebih baik dari 1000 bulan atau lebih dari 83 tahun.
Puasa Ramadhan dengan segala amal ibadahnya berupa tarawih, dzikir, infaq, I’tikaf, membaca al-Qur’an dan lainnya tentu akan mampu menghantarkan manusia menjadi taqwa. Sebab Ramadhanmerupakan bulan tarbiyah, mendidik hawa nafsu, menempa keinginan, kepentingan, prinsip hidup,sudut pandang, agar tunduk semata-mata kepada Allah swt.
Hikmah disyari’atkannya puasa adalah agar manusia menjadi bertaqwa. Sebab puasa adalah merupakan penyebab utama agar mencapai ketaqwaan. Yaitu melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Syari’at puasa menjadi penyebab utama meraih taqwa karena orang yang berpuasa mampu mentaati Allah walaupun dalam masalah yang sebenarnya dihalalkan sebelumnya, seperti makan, minum, berhubungan badan suami-istri dan sebagainya. Dan inilah taqwa. Orang yang membiasakan mendidik nafsunya untuk mengikuti perintah Allah, yang sebelumnya suka diumbar.
Dari sisi medis, puasa menjadikan sempitnya pembuluh darah, sehingga godaan syetan yang berjalan melalui alirannya menjadi buntu. Maka dengan puasa tersebut ambisi berbuat maksiyat melemah.
Dengan puasa pula keinginan untuk memperbanyak ketaatan semakin kuat. Misalnya orang kaya dapat merasakan langsung bagaimana pedihnya rasa lapar sebagaimana mendera kaum fakirmiskin. Sehingga timbullah tanggung jawab sosialnya. Dan inilah buah taqwa. Ramadhan juga bulan jihad, dimana puasa mengajarkan jihad melawan rayuan syetan kepada kejahatan, ajakan hawa nafsu, menanjurkan supaya sabar, dermawan, produktif, tidak pemarah, disiplin waktu. Puasa membentuk manusia jujur kepada diri sendiri, mampu menahan diri dari yang dilarang Allah. Memiliki tanggung jawab, adil, memiliki kepedulian social dan sebagainya.
Kemuliaan Al-Qur’an
Tidak kalah pentingnya, Allah memuliakan bulan ini dari seluruh bulan yang ada karena bulan ini Allah turunkan Al-Qur’an (Syahrul-Qur’an). Allah turunkan kitab-kitab untuk para nabi-Nya, Taurat, Injil, Zabur dan suhuf para nabi dan rosul juga pada bulan ini.. Agungnya Ramadhan juga karena identik dengan sifat al-Qur’an yang mulia. Yang mengandung petunjuk (hudan), menunjukkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia agar diikuti, menunjukkan mana yang bahaya (mudhorrot) bagi mereka agar dijauhi. Menunjukkan jalan-jalan kebaikan, dan menunjukkan pula jalan-jalan kebinasaan.
SIfat Al-Qur’an juga menjadi pemberi penjelasan (Bayan) yang gamblang, menjelaskan jalan-jalan keselamatan dan kebahagiaan, menjelaskan jalan-jalan kesesatan. Al-Qur’an menjadi pembeda (Al-Furqon) atas cakupan kebaikan dan keburukan. Membedakan mana yang haq, mana yang bathil.
Mana yang halal, mana yang haram. Mana tauhid, mana yang syirik. Mana yang sunnah, mana yangbid’ah. Mana yang menyebabkan kebahagian dan mana yang membinasakan. Agar manusia berfikir.
Indahnya Rukhsoh
Allah yang maha rohman dan rohim memberikan kemudahan atau keringanan (rukhsoh), yaitu bolehnya meng-qodho’ puasa dan diganti pada hari lain sebanyak hari yang ditinggalkan karena sebab-sebab tertentu seperti sakit keras, perjalanan jauh, hamil dan sebagainya. Allah tidak membebani hamba-Nya diluar kemampuannya. Seperti adanya rukhsoh menjama’ dan meng-qoshor sholat bagi musafir, sholat dengan berbaring bagi yang tidak kuat berdiri, bolehnya bertayammum bagi orang sakit atau kesulitan mendapati air, bolehnya memakan makanan haram dalam keadaan dhorurot yakni nyawanya terancam jika tidak memakannya. Dan sebagainya.
Bagi orang yang tidak mampu berpuasa dan tidak memungkinkan pula menggantinya maka boleh menggantinya dengan fidyah. Yaitu memberi makan fakir miskin sebanyak puasa yang ditinggalkan. Seperti kakek-nenek yang sudah tua, orang sakit yang kemungkinan tidak diharapkan kesembuhannya, wanita hamil yang sangat dikhawatirkan kesehatan bayinya. Dan sebagainya.
Diriwayatkan oleh imam Bukhori dan Muslim, bahwa pada zaman rosulullah saat beliau mengadakan perjalanan bersama para sahabatnya, sebagian mereka ada yang tetap berpuasa, dan sebagian yang lain tidak. Namun diantara mereka tidak ada yang saling mencela.
Hal ini menunjukkan bahwa syari’at Allah mengandung manfaat yang sangat banyak. Sebaliknya apa yang dilarang Allah hakikatnya mengandung kerusakan yang luar biasa bagi jiwa dan badan. Salah satu sifat mustahil bagi Allah adalah berbuat dan berkata sia-sia. Maka apa saja yang difirman Allah adalah bermanfaat. Dalam hal ini rosulullah bersabda; “Maka sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kalamullah (Al- Qur’an), dan sebagus-bagus petunjuk adalah petunjuk Muhammad….” (HR. Bukhory). Namun banyak manusia yang tidak mengerti hikmah ini.
Sesungguhnya ajaran Islam itu adalah kemudahan. Dan barangsiapa yang menentang ajaran Islam sesungguhnya justru mempersempit hidup. Akan tetapi kebanyakan manusia mencari rekayasa pemuasan diri dengan hawa nafsu. Padahal hal ini sejatinya adalah kehancuran yang nyata. Yang lebih aneh lagi, mereka menyangka ajaran Islam sebagai beban, menjadi penghalang kemajuan dan prasangka-prasangka keji lainnya.
Hendaknya bersyukur
Maka barangsiapa yang menyaksikan bulan Ramadhan hendaknya berpuasa, yakni bagi setiap muslim yang baligh, sehat serta mampu. Alangkah indahnya jika nilai-nlai ini mampu terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari setelah Ramadhan. Apabila telah kita laksanakan perintah-perintah Allah dengan taat kepada-Nya, menunaikan kewajiban-kewajiban, meninggalkan apa yang dilarang, menjaga batasan-batasan-Nya, maka mudah-mudahan kita menjadi orang yang bertaqwa.
Sebagian ulama ada yang mengambil istimbat disyari’atkannya takbiran pada saat menjelang hari raya dengan ayat ini. Sudah sepantasnya kita wajib bersyukur dengan adanya rangkaian syari’at ibadah di bulan puasa ini. Yakni dengan membesarkan Allah dengan banyak-banyak mengucapkan takbir, tahmid, tasbih menjelang hari kemenangan, idul Fitri. Merayakan hari kemenangan dengan banyak bersilaturahim bersama keluarga, sahabat, tetanga dan kaum muslimin di seluruh dunia. Taqobbalallohu minna waminkum.
Maroji’:
1) Tafsir Ibnu Katsir.
2) Tafsir taysir karimir Rohman